He Loves Me – Part 1

colorful-101_large_large

Title            : He Loves Me (Part 1)

Main Cast : Kyuhyun, Yeon Joo

Genre         : Find by your self ^^

Author       : @dyshayokunatta (Shally)

Please stop, someone pinch me

Tell me to wake up from this dream; my wavering eyes are shaking the world

I’ve never felt it until now

Living life, no one’s ever taught me before

I think I know what this ‘love’ is; I’ll soar through the skies

(Standing EGG with Windy – 사랑한대)

 

Kyuhyun hampir putus asa dengan gadis yang berjalan di depannya. Kyuhyun tidak suka bagaimana gadis itu sama sekali tidak memedulikannya. Kyuhyun merasa kepalanya hampir meledak tiap kali gadis itu selalu tersudut dalam diam setiap ada yang memakinya. Dan sekali lagi, gadis itu hanya diam.

. . .

 Gadis itu Yeon Joo. Han Yeon Joo.

Gadis yang selalu terlihat sendiri yang sering menatap ke lapangan basket penuh rasa ingin dari balik tirai jendela laboratorium science di lantai tiga.

Sekilas tidak ada yang tampak berbeda dari gadis itu. Yeon Joo, gadis mungil dengan tinggi 158 cm dengan kulit putih pucat dan mata yang berwarna cokelat terang. Yeon Joo termasuk mahasiswa pintar  dengan nilai yang selalu mendekati sempurna di setiap mata kuliah. Gadis itu sangat tekun dan sering menghabiskan waktunya di perpustakaan atau di tempat sepi lainnya. Dia seperti gadis biasa yang sangat pintar.

Hanya saja gadis itu sangat pendiam. Dia bahkan tidak punya teman sama sekali. Yang dia lakukan hanyalah membaca buku, mengerjakan tugas, menghabiskan jeda jam kosong di perpustakaan, duduk di taman kampus dengan diktat tebal di pangkuannya, mengikuti kelas, lalu pulang. Dan itu semua dilakukannya sendiri. Terkadang dia tampak sibuk di laboratorium hanya ditemani penjaga lab yang sudah lebih dari paruh baya.

Yeon Joo tidak terbiasa berinteraksi dengan orang lain. Pula tidak ada yang peduli dengannya karena dia terlihat tidak peduli dengan orang lain.  Semua orang menganggap Yeon Joo gadis aneh yang tidak suka dicampuri segala urusannya yang selalu sibuk dengan dunianya sendiri.

Ya, hanya saja dia terlalu pendiam. Dan Ya, dia gadis yang sangat pintar. Kecerdasan Yeon Joo membuat beberapa dosen sering melibatkan Yeon Joo dalam proyek yang dikerjakannya. Yeon Joo tentu saja sangat senang. Apalagi semua pekerjaan itu lebih sering mengharuskan dia menghabiskan waktu di laboratorium lebih lama tanpa berinteraksi dengan banyak orang. Yeon Joo sama sekali tidak mengira bahwa hal itu justru membuatnya terlihat sangat eksklusif dan menyebalkan di mata teman-temannya.

. . .

Malam beranjak larut. Hanya tinggal beberapa orang yang masih terlihat duduk serius di beberapa sudut kampus dengan laptop menyala di hadapan mereka.  Yeon Joo berjalan tergesa menuju laboratorium komputer di lantai dua. Laptopnya sudah kehabisan energi setelah menyala 3 jam terus menerus dan laporannya akan selesai dengan satu teori lagi sebagai pamungkasnya. Yeon Joo hampir saja selesai mengunduh materi itu ketika tiba-tiba layar laptop di hadapannya berubah menjadi gelap.  Seluruh spot dengan fasilitas ber’stop kontak’ sudah penuh, Yeon Joo tidak akan mungkin meminta ijin kepada orang-orang itu untuk menumpang barang sebentar, karena itu dia memutuskan untuk naik ke lantai dua.

Sekali lagi, orang tergesa-gesa justru akan memperlambat pekerjaannya sendiri. Bahkan bisa lebih parah jika sampai mengganggu kepentingan orang lain. Yeon Jo sama sekali tidak melihat ada kabel yang melintang di antara dua meja yang dilewatinya. Kakinya melanggar kabel itu begitu saja dan tubuhnya jadi tak seimbang. Tepat ketika seluruh badannya menyentuh lantai marmer ruangan itu, Yeon Joo mendengar seseorang menggerutu.

“Aiissshhhh. Mwoya ige?!” orang itu menyembulkan kepala dari balik meja dan melihat Yeon Joo mengusap kedua sikunya bergantian.

Yeon Joo berdiri dan membungkukkan badannya ke arah orang itu. Ketika mengetahui siapa yang telah terganggu oleh tindakannya tadi, Yeon Joo agak terkejut dan membuatnya pergi begitu saja setelah membungkukkan badan tanpa mengatakan sepatah katapun. Menurut Yeon joo ia sudah minta maaf, dan itu sudah cukup. Ia harus segera mendapatkan apa yang ia butuhkan sebelum nanti ibunya marah karena ia pulang sangat terlambat.

“Ya! Kau tidak tahu kalau kau telah merusak saat-saat penting dalam hidupku?” seru orang itu.

“Sst..! dia memang begitu Kyuhyun-ah! Tidak pernah peduli dengan orang lain. Percuma saja kau berkata apapun padanya. Dia sama sekali tidak akan mendengarkanmu. Orang yang bahkan tidak tahu cara meminta maaf seperti itu pantas saja tidak punya teman,” bisik seseorang yang berada di seberang meja Kyuhyun.

Kyuhyun lalu memperhatikan setiap gerak-gerik yang dilakukan Yeon Joo dengan tatapan menilai.

Yeon Joo bukannya tidak mendengar ucapan orang itu. Ia sudah terbiasa mendengar perkataan negatif semacam itu setiap hari. Dia hanya akan diam dan tidak melakukan apa-apa.

. . .

Yeon Joo berjalan dengan tanpa akselerasi menyusuri lorong gedung kampus. Jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sampai di ujung gedung dengan pencahayaan sangat minim, tangan Yeon Joo ditarik paksa oleh seseorang. Yeon Joo berbalik dan melihat tiga orang yang ia kenal berdiri di depannya dengan tatapan penuh kebencian.

“Han-Yeon-Joo!” ucap salah satu dari mereka mengeja nama Yeon Joo.

Yeon Joo diam tak bergerak di tempatnya. Kedua tangannya dicekal dengan kuat oleh dua orang yang lain.

“Ya! Kau tahu seisi kampus ini sangat muak dengan sifatmu yang suka menjilat itu. Apa sih yang kau katakan pada semua dosen sehingga mereka begitu menganak-emaskan seseorang yang sangat aneh sepertimu, Han Yeon Joo?!” ucap seseorang yang tidak mencekal Yeon Joo dengan penuh emosi.

Yeon Joo diam tak bergeming.

“Apa kau bisu, huh?! Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” gadis itu lalu menarik kerah baju Yeon Joo tak sabar.

“Kau tahu, sejak kau memasukkan profilmu dalam setiap aplikasi penerimaan tenaga pengerjaan proyek dosen, tidak ada lagi yang bisa berharap namanya akan terpilih. Upaya kotor apa yang kau lakukan sampai semua dosen begitu mempercayaimu?”

Yeon Joo diam. Wajahnya menunduk memperhatikan beberapa kertas proyeknya yang sudah kotor terinjak, beberapa tampak kusut masai sama sekali tak terselamatkan.

“YA!” gadis itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan menampar Yeon Joo dengan keras.

Yeon Joo sama sekali tidak bersuara. Tak ada yang tahu apa yang berkecamuk dalam pikiran gadis itu. Ia sangat ketakutan.

“Terakhir kali aku sudah memperingatkanmu untuk tidak usah memasukkan aplikasi lagi tapi kau tetap melakukannya? Kau tahu, Yeon Joo? Sangat menyakitkan ketika mereka semua begitu memujimu di depanku dan mereka mengatakan padaku untuk belajar padamu. Mereka sama sekali tidak memberiku kesempatan begitu melihat namamu ada di dalam tumpukan map pendaftaran.”

Yeon Joo membisu. Dan sekali lagi suara tamparan itu melayang begitu keras tepat di rahang kanan Yeon Joo. Seketika Yeon Joo limbung. Pandangannya tiba-tiba berubah kabur. Cekalan di lengannya mulai mengendur dan Yeon Joo tidak kuat menahan  beban tubuhnya sendiri.

Tubuhnya meluncur turun ketika ia mendengar desisan sinis dari ketiga gadis di depannya. Yeon Joo menutup matanya karena merasakan pusing yang amat sangat. Tepat ketika Yeon Joo yakin kepalanya akan membentur lantai marmer dingin yang dipijaknya, ia merasakan sebuah lengan kokoh melingkar dipinggang rampingnya, menahannya agar tidak jatuh.

Yeon Joo membuka matanya perlahan dan ia bisa melihat mata teduh milik seorang pria berwajah putih pucat hampir mirip dengan kulitnya tengah menatapnya.

“Kk.. Kyuhyun-sshi” ucap ketiga gadis itu bersamaan.

“Ya, itu namaku. Kalian tak usah repot-repot mengingatkanku,” ucap Kyuhyun sinis.

“Ka.. kami hanya memberi sedikit pelajaran pada..” ucap salah satu dari ketiga gadis itu.

“Kampus adalah tempat orang-orang berpengetahuan yang akan melakukan tindakan apapun dengan akal bukan dengan fisik. Tidakkah kalian tahu kalau tindakan kalian ini termasuk kriminalitas? Begitu bagian disipliner kemahasiswaan mengetahuinya, habislah kalian. Kalian akan memperoleh sanksi indisipliner tanpa melihat latar belakang kalian,” ucap Kyuhyun sambil tetap berkonsentrasi membuat Yeon Joo berdiri. Sama sekali tak memperhatikan tiga gadis yang gelisah di hadapannya. Nada sindirannya terasa sekali mengingat salah satu dari ketiga gadis itu adalah anak dari salah satu petinggi di Kampusnya. Kyuhyun rasa gertakannya itu cukut menakutkan jika gadis itu masih peduli dengan nama baik orang tuanya.

“Tapi..”

“Lebih baik sekarang kalian pergi sebelum aku berubah pikiran. Sekali lagi aku melihat kalian melakukan ini lagi, kalian tahu apa yang akan terjadi, kan?” ucap Kyuhyun tenang tapi terkesan menakut-nakuti. Dan ketiga gadis itu langsung pergi tanpa bicara apa-apa lagi.

Yeon Joo berdiri melepaskan diri dari dua tangan besar yang menopang tubuhnya dan membersihkan celananya yang terkena debu akibat ia jatuh terduduk tadi.

“Terima kasih,” gumam Yeon Joo pendek. Yeon Joo merapikan beberapa barangnya yang terjatuh.

Tak ada yang tahu ada gerakan indah dari bibir Kyuhyun ketika mendengar Yeon Joo bersuara.

“Han Yeon Joo-sshi. Kepribadianmu sangat tidak cocok dengan apa yang kulihat tadi. Kenapa kau hanya diam saja ketika ada orang yang menyakitimu secara fisik? Setidaknya kau balas ucapan mereka dengan argumen brilianmu seperti ketika kau menulis paper atau laporanmu yang selalu berpredikat tres bien.

“Tahu apa kau tentang aku?” ucap Yeon Joo sekenanya. Ada sedikit getaran yang timbul dari perkataannya itu. Begitulah Yeon Joo. Gadis yang cepat gugup ketika ia ketakutan. Semua kata-kata yang keluar dari mulutnya akan terdengar kasar dan tidak bersahabat. Ia lalu pergi begitu saja meninggalkan Kyuhyun sebelum pria itu membalas ucapannya. Yeon Joo semakin mempercepat langkahnya.

Kyuhyun merasa seolah ada kekuatan tak terlihat yang menariknya kakinya untuk mengikuti Yeon Joo. Bisa saja Kyuhyun langsung menuju parking lot untuk mengambil sepeda motornya dan pulang ke rumah lalu melanjutkan gamenya yang tertunda tanpa perlu menghabiskan tenaga dan waktu mencampuri urusan gadis itu. Tapi ada sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya saat ini.

“Yeon Joo! Han Yeon Joo!” teriak Kyuhyun sambil setengah berlari mengejar Yeon Joo. Ia langsung menarik tangan Yeon Joo untuk menghentikan langkah gadis itu.

“Wae? Aku sudah berterima kasih padamu tadi,” ucap Yeon Joo dengan suara yang lebih mantap tanpa melihat Kyuhyun.

“Menurutmu aku adalah orang yang gila ucapan terima kasih yang akan mengejar setiap orang yang mungkin merasa tertolong olehku untuk sekedar mendengar ucapan yang tidak tulus seperti ini?”

“Lalu apa maumu?”

Kyuhyun terdiam cukup lama. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi seperti ada yang menahannya dan hal itu membuat Yeon Joo memutuskan untuk meneruskan langkahnya menuju gerbang kampus. Kyuhyun mengikuti langkah Yeon Joo. Sekali lagi, Kyuhyun seperti tidak sadar melakukan itu semua.

Entah karena pengaruh tamparan yang menurut Kyuhyun sangat keras tadi atau karena ada sesuatu yang mengganggu pikiran gadis di depannya itu, Kyuhyun melihat gadis itu berjalan dengan tidak wajar. Kyuhyun terpana dengan apa yang terjadi di depannya dan ia merasa Yeon Joo dalam bahaya.

Yeon Joo menabrak seorang laki-laki besar dan Kyuhyun tahu betul jika pria itu berada di bawah pengaruh alkohol. Yeon Jo dan laki-laki itu terjatuh di kawasan pedestrian sepi tak jauh dari kampus. Laki-laki itu terkejut dan memperlihatkan kemarahan dari matanya yang memerah. Di belakang laki-laki itu ada beberapa orang lain yang terlihat sama-sama menakutkan. Otak Kyuhyun bekerja dengan sangat liar. Di dalam benaknya terbayang ekspresi Yeon Joo meminta maaf kepada laki-laki besar penuh rajah itu. Yeon Joo akan tampak seperti orang yang tidak punya sopan santun dan pasti akan membuat orang itu naik pitam. Yeon Joo tidak tahu cara meminta maaf! Klaim Kyuhyun.

Kyuhyun sedikit lebih cepat menarik Yeon Joo sebelum tangan besar laki-laki itu mendarat di tubuh Yeon Joo. Laki-laki itu bangkit dan terlihat akan mengejar Kyuhyun dan Yeon Joo. Kyuhyun menggenggam tangan Yeon Joo, menariknya dan berlari masuk ke kampus menuju tempat Kyuhyun memarkir sepeda motornya. Kyuhyun  bertanya-tanya dalam hatinya ke mana security kampus pergi karena ia tidak melihat penjaga keamanan itu di pos yang terletak di depan gerbang kampus.

. . .

Yeon Joo terduduk tegak dan kaku di jok belakang sepeda motor sport hitam milik Kyuhyun. Dudukan itu terlalu tinggi untuknya. Kedua tangannya memegang bagian belakang jok yang didudukinya.

“Ya! Aku tidak menjamin keselamatanmu jika kau tidak duduk dengan benar!”

Dengan ragu Yeon Joo memegang bagian pinggang jaket kulit yang dikenakan Kyuhyun. Dengan sekali sentakan, Kyuhyun langsung menjalankan sepeda motornya. Terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu, Yeon Joo tanpa sadar melingkarkan kedua lengannya di tubuh keras berbalut jaket kulit itu. Begitu Yeon Joo mengunci pegangannya dengan menautkan semua jemarinya, Kyuhyun langsung memacu sepeda motornya dengan kecepatan yang luar biasa. Adrenalin mengalir deras di sepanjang nadi Yeon Joo. Ketakutan? Mungkin iya.

Sepeda motor itu melaju kencang dengan kekuatan penuh. Kyuhyun memiliki pengendalian luar biasa saat meliuk-liukkan sepeda motornya di antara puluhan mobil di jalan raya. Kepiawaiannya mungkin setara dengan pembalap profesional. Meski demikian Yeon Joo merasa Kyuhyun tetap bersikap hati-hati untuk memastikan keselamatannya. Dengan takut-takut Yeon Joo terus memejamkan matanya dan membiarkan tubuhnya merasakan panas tubuh Kyuhyun yang menjalar melalui jaket yang dikenakannya hinga menyesap begitu nyata di sekujur tubuh Yeon Joo.

. . .

Peristiwa setelah itu membuat Kyuhyun terkejut bukan main. Sebenarnya Yeon Joo mengisyaratkan pada  Kyuhyun untuk menurunkannya di pintu gang menuju rumahnya. Tapi Kyuhyun tidak menyadarinya hingga ia merasakan pundaknya dipukul sedikit keras dari belakang tepat di depan gerbang besi tinggi dengan cat berwarna cokelat tua.

Kyuhyun masih sempat menyaksikan bagaimana wanita paruh baya itu menampar pipi Yeon Joo dengan sangat keras begitu dia membuka pintu gerbang. Tanpa berkata apapun, tangannya mendarat begitu saja dengan mulus di pipi kanan Yeon Joo. Kyuhyun terduduk kaku di jok sepeda motornya tanpa bisa melakukan apa-apa sampai ia menyaksikan gerbang itu tertutup.

“Kau teman Yeon Joo?” tanya seseorang mengagetkan Kyuhyun. Di depan Kyuhyun berdiri seorang nenek dengan membawa tas besar  yang entah berisi apa.

. . .

Baru kali ini aku melihat Yeon Joo terlihat bersama orang lain. Selama ini dia selalu terlihat sendiri dan tidak pernah membawa seorangpun ke rumahnya,”

Sejak kecil anak itu telah mengalami penolakan dari keluarganya kecuali sang ayah. Aku yakin kalau ibunya masih hidup, semua akan lebih baik. Tapi ini takdir yang harus di terima gadis malang itu. Ibu tirinya sama sekali tidak menyayanginya atau memperlakukannya sebagai anak yang selayaknya disayangi. Ayahnya seperti tidak mengetahui apapun yang terjadi pada anak gadisnya itu. Dia hanya tahu anaknya tumbuh menjadi gadis dewasa yang cerdas.”

“Bagaimana halmeoni bisa tahu hal itu?”

Aku pernah bekerja pada keluarga Han. Yeon Joo kecil sangat pintar dan banyak bicara. Ketika ia berumur empat tahun, bisnis ayahnya mulai berkembang dan mengharuskannya untuk meninggalkan Seoul dalam pengembangan perusahannya itu. Sejak saat itu istri Tuan Han, Ibu tiri Yeon Joo mulai memperlakukan Yeon Joo secara tidak layak. Yeon Joo kecil sering mengalami kekerasan fisik dan sering sekali di marahi. Ibu tiri Yeon Joo memecatku karena aku berusaha melindungi gadis malang itu.”

 “Kenapa halmeoni tidak melaporkan ibu Yeon Joo? Bukankah itu termasuk tindakan kriminal?”

“Ada alasan khusus yang tidak bisa aku katakan padamu, nak. Aku hanya berharap, setelah kau melihat sendiri dan mengetahui keadaan Yeon Joo, kau tidak akan meninggalkan gadis malang itu. Aku merasa dia mengalami tekanan yang luar biasa dalam dirinya. Yang mungkin hal itu menyebabkan dia menjadi begitu pendiam seperti sekarang.”

. . .

Kyuhyun adalah mahasiswa populer di kampus. Perpaduan penampilan fisik dan intelegensi serta pembawaannya yang cuek merupakan satu paket lengkap yang tidak bisa ditolak gadis manapun untuk tidak menyukainya.

Yeon Joo pernah menjumpai dua orang gadis sedang beradu mulut di sudut belakang gedung perkuliahan mendebatkan pria populer itu. Ia sedikit bergidik membayangkan jika ada yang tahu tentang kebersamaannya dengan Kyuhyun yang tak terduga kemarin. Karena itu Yeon Joo bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa, dan tidak menyapa Kyuhyun sama sekali ketika mereka tanpa sengaja bertemu di lorong kampus atau di manapun. Meski dalam hatinya ia ingin sekali saja tersenyum untuk sekedar menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Kyuhyun karena telah menolongnya beberapa kali. Di sisi lain, Yeon Joo menganggap, Kyuhyun pasti akan menjauhinya setelah melihat peristiwa di depan rumah Yeon Joo malam itu. Yeon Joo merasa tidak layak untuk menerima kebaikan Kyuhyun lebih dari itu. Aneh memang, tapi entah. Yeon Joo selalu merasa ia tak pernah layak untuk mempunyai teman.

Yeon Joo berjalan menuju perpustakaan untuk menghabiskan waktu jeda sebelum kuliah dimulai satu jam lagi. Dia sangat tidak peka dengan keadaan sekelilingnya karena ia memasang dua buah headset di telinganya. Yeon Joo sudah menerapkan metode seperti itu dari dulu agar ia tidak mendengar ocehan-ocehan negatif terhadap dirinya. Ia bahkan tidak menyadari ada dua orang pria mengikutinya. Sepertinya pilihan Yeon Joo untuk melewati sudut tersepi di kampus itu untuk menghindari orang-orang adalah pilihan yang salah besar.

Begitu sampai di ujung lorong yang sepi, salah satu dari pria itu mencekal lengan Yeon Joo dan menyeretnya ke arah kamar mandi. Yeon Joo tidak berteriak, tapi ia berusaha memberontak sekuat tenaga. Tapi tenaganya tak cukup kuat untuk melawan tenaga pria yang jauh lebih besar darinya.

Salah satu dari mereka menarik headset  dari telinga Yeon Joo dengan paksa.

“Ya! kau benar-benar keras kepala. Yoo Jin sudah beberapa kali memperingatkanmu untuk tidak mengganggu jalannya, tapi kau tetap melakukannya. Bukannya dia sudah memintamu untuk mengundurkan diri dari proyek Dosen Oh? Kau benar-benar tidak berguna!” ucap salah satu dari pria itu sambil membekap mulut Yeon Joo.

“Kuperingatkan kau sekali lagi. Jangan pernah mencari muka di depan semua dosen. Bahkan bergaul saja kau tidak bisa. Kau tidak punya teman yang mendukungmu. Jadi semua itu tidak akan berguna. Tinggalkan proyekmu untuk Yoo Jin dan kami akan melepaskanmu. Kalau tidak kami akan membuatmu menyesal.”

“Dan aku harap kau menutup mulutmu setelah ini kalau kau tidak mau celaka!”

. . .

Kyuhyun berbaring di sebuah bangku taman. Di sebelahnya duduk teman akrabnya yang sedang sibuk mengutak-atik ponsel pintarnya.

“Kau tidak mungkin mengalahkan rekorku, Shim Chwang!” gumam Kyuhyun.

“Jangan berlagak seperti itu. Bahkan kemarin saja Minho mengalahkanmu, apa kau lupa? Lihat saja nanti. Sekali aku bisa melampaui skormu, aku akan sebarkan itu ke semua SNS dan orang-orang akan berhenti menganggapmu sebagai gamer yang punya kemampuan setara dengan gamer profesional. Saat itu habislah kau Cho! Hahaha,” ucap pria tinggi atletis di samping Kyuhyun. Shim Chang Min

“Sssstt..!” ucap Kyuhyun sambil mengangkat telunjuknya dan menempatkannya di atas bibir tebalnya memberi isyarat pada Changmin untuk diam. Kyuhyun mengubah posisinya menjadi duduk dengan waspada.

Iya.. kau tahu saat ini perpustakaan pasti sangat sepi karena sedang dalam perbaikan. Mereka berdua mengikuti anak sialan itu untuk memberi pelajaran padanya……”

 Kyuhyun tersentak dan pikirannya langsung terarah pada Yeon Joo.

“Apalagi kali ini? Yeon Joo bodoh!” gerutu Kyuhyun. Kyuhyun lantas berdiri dan berlari meninggalkan Changmin dan tidak menghiraukan sama sekali teriakan pria itu memanggil-manggil namanya.

“Yeon Joo? Sejak kapan dia jadi sangat peduli terhadap gadis aneh seperti Yeon Joo?” Changmin menggeleng-gelengkan kepalanya lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.

Banyak hal liar yang berada dalam pikiran Kyuhyun. Yeon Joo.

Avoidant personality disorder is characterized by extreme social anxiety. People with this disorder often feel inadequate, avoid social situations, and seek out jobs with little contact with others. Avoidants are fearful of being rejected and worry about embarrassing themselves in front of others. They exaggerate the potential difficulties of new situations to rationalize avoiding them. Often, they will create fantasy worlds to substitute for the real one. Unlike schizoid personality disorder, avoidants yearn for social relations yet feel they are unable to obtain them. They are frequently depressed and have low self-confidence

 

Kyuhyun masih ingat betul tentang apa yang dikatakan kakaknya padanya malam itu ketika ia menceritakan tentang Yeon Joo. Ia juga sangat yakin diagnosa Ahra  tidak salah.

Yeon Joo memilih menyendiri untuk mengindari kegiatan sosial karena itu adalah perintah alam bawah sadarnya untuk melakukannya karena ia takut tidak diterima, Social inhibition; retreating from others in anticipation of rejection.

Dia terlalu tenggelam dalam anggapan penolakan terhadap dirinya itu. Perlakuan keluarganya dirumah yang membuatnya berpikiran ekstrim seperti itu. Apa yang dilakukan oleh Yeon Joo selalu dianggap salah dan berujung ketakutan Yeon Joo untuk melakukan sesuatu atau menyampaikan perasaannya, preoccupation with being rejected or criticized in social situation.

Ketakutannya itu mencetak diri Yeon Joo menjadi orang yang benar-benar berbeda, she appears to others as self-involved and unfriendly. Karena itu teman-temannya yang tidak tahu keadaannya akan menganggap Yeon Joo adalah sosok menyebalkan yang layak dihindari. Yeon Joo tidak menyadari hal itu. Dan dia selalu menganggap teman-temannya layak menjauhinya karena Ia memang tidak pantas.

 Itulah yang bisa Kyuhyun simpulkan tentang Yeon Joo. Yeon Joo tidak bisa disalahkan karena lingkunganlah yang membentuk Yeon Joo menjadi seperti sekarang ini. Dulu ketika masih duduk di sekolah menengah, Kyuhyun tidak terlalu memperhatikan hal ini. Dia mengenal Yeon Joo hanya sebatas partner tim olimpiade matematika. Kyuhyun hanya mengetahui ada yang tidak wajar dengan Yeon Joo baru-baru ini. Dan dia tidak sadar jika hal itu sangat mengganggunya.

Dan yang paling penting adalah Yeon Joo punya keinginan besar untuk hidup wajar, bergaul secara layak dengan orang lain. Itu adalah salah satu poin pentingnya. Kyuhyun yakin itu karena ia sering melihat Yeon Joo menatap penuh rasa ingin dari balik jendela lab atau mengintip sesekali dibalik buku tebalnya ke arah kerumunan teman-temannya yang lain. Yeon Joo ingin membaur. Jauh dalam lubuk hatinya, ia ingin punya teman.

. . .

Yeon Joo tampak keluar dari kamar mandi. Tangannya terlihat basah. Kyuhyun menunggu gadis itu di luar kamar mandi.

“Apa lagi kali ini?” tanyanya pada Yeon Joo sambil memperlihatkan headset putih yang dia pungut dari lantai.

Yeon Joo terdiam. Kyuhyun mendekat.

“Siapa mereka dan apa yang mereka lakukan padamu?”

Yeon Joo tetap bungkam dan terlihat akan pergi meninggalkan tempat itu. Dia tidak ingin Kyuhyun terlibat dalam urusannya. Yeon Joo melihat headsetnya di tangan Kyuhyun lalu berusaha meraihnya tapi Kyuhyun mengangkatnya lebih tinggi.

“Setidaknya kau bisa memintaku untuk menyerahkan benda ini padamu. Kenapa kau hanya diam, huh?”

Yeon Joo menghentikan gerakannya dan seolah mengatakan pada Kyuhyun “Terserah! Simpan saja headset itu semaumu. Aku masih punya beberapa di rumah” lalu Yeon Joo mulai berjalan meninggalkan Kyuhyun yang semakin frustasi dengan sikapnya.

Kyuhyun merasa aneh dengan sikap Yeon Joo belakangan setelah peristiwa malam itu. Ia tidak menyadari sejak kapan ia begitu peduli pada Yeon Joo dan merasakan emosi aneh yang menjalari hatinya setiap melihat atau mendengar Yeon Joo dibully atau atau diperlakukan tak pantas oleh teman-temannya. Demi Tuhan, Kyuhyun ingin mencoba untuk membantu Yeon Joo memperbaiki kelemahannya, atau setidaknya dia ingin Yeon Joo tahu kalau dia akan membantunya. Kyuhyun benar-benar serius.

Tanpa berpikir panjang, Kyuhyun menarik tangan kanan Yeon Joo dan mendorongnya ke dinding dan mengunci tubuh mungil itu dengan kedua lengan kokohnya.

“Aku serius. Sekarang katakan padaku, siapa yang melakukannya?”

Yeon Joo panik dan berusaha mendorong tubuh besar Kyuhyun.

“Kau tahu, itu tidak akan berguna. Jangan kau sia-siakan tenagamu untuk melakukan hal yang tidak mungkin bisa kau lakukan. Jadi sebaiknya kau katakan padaku siapa mereka!” Kyuhyun semakin mempererat cekalannya. Ia menatap wajah pucat Yeon Joo dalam-dalam. Yeon Joo sangat keras kepala. Kyuhyun sangat frustasi dengan sikap Yeon Joo itu. Bahkan dengan dilukai secara fisikpun Yeon Joo tetap diam. Kyuhyun berpikir keras bagaimana cara membuat gadis itu bereaksi.

“Setidaknya kau bisa marah. Tunjukkan kalau kau tidak suka dengan perlakuan mereka. Katakan apa yang ingin kau katakan,” ucap Kyuhyun dengan nada yang semakin meninggi. Bahkan diperlakukan seperti ini saja Yeon Joo hanya diam.

“Kau harus marah padaku. Kau harus memakiku. Bukankah kau tak suka aku melakukan ini padamu?” lanjut Kyuhyun.

Tiba-tiba ide aneh terlintas di pikirannya.

“Baiklah. Kalau kau tetap berkeras untuk diam. Bagaimana kalau aku mengambil milikmu yang sangat berharga? How about I claim your precious first kiss? I’m serious.

Mata Yeon Joo membesar. Dia masih yakin jika Kyuhyun tidak akan melakukan hal gila seperti itu. Tapi di luar dugaan, Kyuhyun benar-benar tidak peduli. Dengan diamnya Yeon Joo, Kyuhyun seperti sudah kehabisan akal dan kesabarannya.

Kyuhyun menatap Yeon Joo dan memangkas jarak antara dia dan Yeon Joo inchi demi inchi. Yeon Joo seperti kehilangan tenaganya sama sekali. Tapi ia masih berusaha mengupayakan sedikit pemberontakan dengan menggerak-gerakkan tangannya dari cekalan Kyuhyun.

“Sekali lagi aku mengingatkanmu kalau kau hanya akan menghabiskan tenagamu dengan sia-sia, Han Yeon Joo,” Kyuhyun berbisik sangat pelan. Wajah Kyuhyun yang sangat dekat itu membuat Yeon Joo bisa merasakan aroma mint dari nafas Kyuhyun yang menggelitik hidung dan wajahnya, bahkan terasa begitu nyata mempengaruhi seluruh indera Yeon Joo, enough to make a stress response because her adrenaline rises. She feels like thousands butterflies tickling her entire stomach.

Yeon Joo masih membuka matanya dan mendapati wajah Kyuhyun begitu dekat dengan wajahnya. Ujung hidung mereka kini bersentuhan dan seketika Kyuhyun memiringkan kepalanya dan menyentuh bibir lembut Yeon Joo dengan bibirnya. Kyuhyun mengecup bibir lembut, hanya mengecup saja. Ciuman yang sederhana. Yeon Joo kebas. Tubuhnya serasa tersengat listrik ribuan volt.

Kyuhyun sendiri sangat terkejut dengan apa yang yang telah ia lakukan. Begitu bibir mereka bertemu, seolah akal sehat Kyuhyun terbang entah ke mana. Tapi semua sudah terlambat. Kyuhyun tidak bisa menghentikannya. Tubuhnya tiba-tiba terasa kaku. Pupil mata Kyuhyun tampak melebar tanda ia benar-benar terkejut dan seketika pria itu melepas bibirnya dari bibir Yeon Joo. Gadis itu sama terkejutnya seperti Kyuhyun.

Mereka terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Yeon Joo meraih headset putihnya dari genggaman Kyuhyun dan ia pergi meninggalkan pria itu sendiri.

. . .

Apa yang terjadi di gedung perpustakaan itu membuat Yeon Joo semakin menghindari Kyuhyun. Apalagi hari ini di beberapa sudut wajahnya terdapat memar yang sengaja ia tutupi dengan rambutnya yang ia biarkan tergerai. Ia tidak mau Kyuhyun melihatnya. Sebenarnya Yeon Joo tidak terganggu sama sekali dengan ciuman singkat itu. Bahkan kalau boleh jujur, Yeon Joo menyukainya. Tapi ia tidak mau melambungkan harapannya terlalu tinggi, ciuman itu tidak ada artinya bagi Kyuhyun, jadi Yeon Joo meyakini semua itu Kyuhyun lakukan karena memang ia telah membuat pria itu meradang. Bukan karena alasan lain. Yeon Joo tidak mau melukai perasaannya sendiri. Cukup fisiknya saja yang terluka. Ia tidak mau membiarkan hatinya terluka berharap karena ia tahu Kyuhyun pasti menolaknya.

Dan sejak peristiwa itu pula Kim sedikit enggan mendaftarkan dirinya sebagai asisten apapun dalam proyek apapun yang sedang dikerjakan dosen-dosennya. Yeon Joo sering kehabisan ide tentang apa yang akan ia lakukan karena waktu luang lebih banyak sekarang. Ia hanya tidak mau kejadian-kejadian itu terulang lagi. Terlebih lagi, seolah mata Kyuhyun ada di mana-mana untuk mengawasinya. Yeon Joo benar-benar tak mau membuat Kyuhyun terlibat dalam urusannya. Bahkan ia membuat alasan seperti terlalu sibuk atau kondisi tubuhnya sedang tidak bagus ketika salah satu dosen strukturnya menawarinya sebuah proyek yang cukup menggiurkan. Tapi Yeon Joo harus menahan keinginan untuk menerimanya.

– TBC-

PS. Cerita ini terinspirasi dari lagunya Standing Egg seperti yang terkutip di awal cerita. (The lyrics itself damn so cute and has a deep meaning) Cerita ini juga juga pernah dipublish di blog pribadi writer. Jadi kalau sewaktu-waktu nemu cerita yang sama, jangan kaget hehe.

The next part will come soon afterwards^^

3 thoughts on “He Loves Me – Part 1

  1. diah sulistia says:

    kasihan yeon jo dia tertekan jadi dia kaya gini deh jjadi cewek pendiam, ayo cho kyuhyun buat yeon jo kembali seoerti waktu kecil dulu yeon jo yg ceria cho kyuhyun pasti bisa!!^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s