[FF] Until You’re Mine [1 of 3]

until-youre-mine-photo

Author  : GSD

Title  : Until You’re Mine [1 of 3]

Cast  : Cho Kyuhyun, Han Hye Jin, Park Eun Hye, Kim Kibum, Kang Eun Soo, Lee Sungmin

Genre : Romance

Length : Chaptered

 “ini mungkin terdengar cukup jahat, tapi aku butuh-seseorang-untuk melupakan semua hal buruk itu. aku butuh seseorang untuk membantuku. maaf kalau ini terdengar egois, tapi aku membutuhkanmu untuk membantuku. Apa.. kau bisa?” –Cho Kyuhyun

 “aku akan membantumu membuang buku lamamu dan memberikan buku baru kepadamu untuk kembali kau isi dengan kisah yang lebih menarik.” –Han Hye Jin

“ne?”

“…aku tidak akan memaksakannya. Kalau kau tidak mau aku—“

“aku mau!”

“ne?”

“aku… mau! aku mau aku mau!”

“…arra arra. Kau bisa mengucapkannya satu kali saja…kkk~” balas pria bertubuh tinggi itu, lalu terkekeh setelah kerutan pada dahinya menghilang sempurna.

“Kyuhyun-ah…” panggil  Hye Jin kemudian. Menginterupsi berbagai kekehan mencibir yang ditujukan kepada gadis kurus disana.

“mm?”

“itu… bagaimana dengan Eun Hye eonni?” tanyanya menghentikan tawa bergemuruh yang tadi keluar bebas dari tenggorokan Kyuhyun.

ani.. ani. Aku hanya ingin mengetahuinya saja. karena kau tahu.. aku juga tahu.. semua orang  juga bahkan tahu kalau kau dan Eun Hye eonni baru saja berpis—“

“kau mau aku jujur?”

“…aku…” bola mata  Hye Jin berputar kesana kemari seperti isi kepalanya yang hampir terasa lumpuh setengah dari keseluruhan miliknya. bulu kuduknya bahkan kini meremang saat mendapatkan pertanyaan lagi sebagai jawaban dari pertanyaan awal yang dirinya ajukan.

Kyuhyun menggeser posisinya untuk lebih dekat dengan  Hye Jin yang kini terlihat membeku seperti patung. “aku akan jujur.” Jawab Kyuhyun setelah mendesahkan nafasnya dengan panjang sebagai awalan dari kalimat yang akan dikatakannya.

“aku dan Eun Hye, kami sudah saling mengenal sejak kami sama-sama duduk disekolah dasar. Dan aku akan jujur denganmu tentang hal ini, bahwa aku telah menyukai gadis itu sejak awal pertama kali kami bertemu”

Kyuhyun terdiam sejenak memberikan jeda pada kalimat panjangnya, seakan enggan mengatakan hal ini kepada siapapun. Mengorek kembali hati yang kini telah koyak tak beraturan, dan menggali kembali lubang yang selama ini mati-matian dengan susah payah berusaha ditutupnya rapat-rapat.

“kurasa aku tidak harus menceritakan juga bagaimana aku jatuh cinta dengan Eun Hye Karena kau pasti sudah tahu. bukan begitu?”

Hye Jin terdiam sambil mengerucutkan bibirnya. Tidak satu katapun meluncur dari mulut yang sejak tadi tidak pernah dikuncinya.

Kyuhyun menghela nafas panjangnya, “hubungan kami memang telah berjalan sejak sangat lama. aku bahkan lupa bagaimana persisnya kami memulai semuanya. Terasa begitu cepat. Membuatku terkejut, karena yang kuingat sekarang adalah bagaimana kami berpisah. Bagaimana kami mengakhirinya. Dan seperti yang kau lihat sekarang. sejauh apapun itu, kami toh telah mengakhirinya. Kami benar-benar telah berakhir, tapi aku harus jujur kalau sebagian hatiku masih menyangkal semua itu. aku… masih mencintai Eun Hye.”

Sepasang bola mata cokelat milik pria bermarga Cho itu menerawang jauh memandangi hamparan rumput hijau dihadapannya. Angin sore menyapu wajah Kyuhyun dan  Hye Jin. Membuat tatanan rambut yang sudah susah payah  Hye Jin buat sedemikian rupa untuk pertemuan kali ini, rusak begitu saja.

Emosi yang biasa muncul karena angin yang telah menghempaskan seluruh kerja kerasnya itu tidak begitu diperdulikannya dibandingkan rasa marah dan kesedihan bagi pria yang baru menyatakan cinta kepadanya itu.

“aku masih mencintai Eun Hye. lepas dari apapun yang telah ia perbuat kepadaku, aku masih mencintainya.” lanjut Kyuhyun pelan. hatinya seakan kembali remuk seperti saat pertama kali mendapatkan kenyataan bahwa gadis yang telah menjadi kekasihnya selama hampir tujuh tahun itu pergi  meninggalkannya karena pria lain.

“tentu saja kau masih mencintainya…” gumam  Hye Jin pelan. mendapatkan jawaban jelas dari anggukan Kyuhyun untuknya. Membenarkan.

“tapi apapun yang kurasakan sekarang untuknya, itu semua sudah tidak berarti lagi. kau tahu.. seberat apapun masalahmu, hidup akan terus berjalan. Dan kau hanya akan membuang waktumu kalau kau hanya akan berdiam diri dan meratapi nasib hidupmu yang terasa menyedihkan. Meratapi hidup bukankah itu terlihat lebih menyedihkan?” kyuhyun mendesis, lalu tersenyum sinis, untuk dirinya sendiri.

Mencibir apa yang telah dilakukannya selama ini. tentang bagaimana dirinya menyendiri hanya untuk menata kembali hati dan pikirannya yang kacau ketika Eun Hye meninggalkannya.

“ini mungkin terdengar cukup jahat, tapi aku butuh-seseorang-untuk melupakan semua hal buruk itu. aku butuh seseorang untuk membantuku melupakan Eun Hye. maaf kalau ini terdengar egois, tapi aku membutuhkanmu untuk membantuku. Apa.. kau bisa?”

Tanya kyuhyun kemudian. Fokusnya kini telah beralih menatap tubuh yang kian lama semakin membatu. “bantu aku melupakan Eun Hye. bantu aku, melupakan masa laluku.”

Tubuh yang membatu itu, semakin terasa meradang. Dihati  Hye Jin, kini telah terjadi pesta kembang api yang membuatnya ingin segera berteriak, dan diperutnya terasa penuh oleh kupu-kupu yang bertebangan kesana kemari. Membuatnya ingin meremas perutnya sekuat tenaga untuk menghentikan keram yang dirasanya.

Perlahan tapi pasti, kedua  matanya pun kini beralih menatap sepasang mata yang sudah lebih dulu menitik beratkan pandangannya pada dirinya. Goresan senyum yang semakin menegas tercetak pada bibir tipis itu kini mengembang lebar.

Dengan satu kali hempasan,  Hye Jin melemparkan tubuhnya pada Kyuhyun dan memeluk pria itu kuat-kuat. “aku tahu. aku akan berusaha sekuat tenagaku. aku akan membuatmu melupakan semuanya. Aku akan membantumu melupakan Eun Hye. aku akan membantumu membuang buku lamamu dan memberikan buku baru kepadamu untuk kembali kau isi dengan kisah yang lebih menarik.”

“benarkah?” sahut kyuhyun, tersenyum simpul.

“aku janji.”

“kau tahu, janji itu hutang.”

“kalau begitu kau bisa menagih hutangku setiap saat”

arra. Kalau begitu kau harus ingat, kau berhutang sangat banyak denganku nona Han”

Balas kyuhyun lalu terkekeh dan merengkuh tubuh mungil  Hye Jin lebih erat. “kau bisa memulainya dengan memanggilku Oppa!

Seketika  Hye Jin melepaskan paksa rengkuhannya dan memberikan lirikan tajam kepada Kyuhyun, “Shiero!

mwo? Yaa!! aku lebih tua darimu dua tahun! tidak sopan!”

“aku tidak perduli. Kau memang lebih tua dariku, tapi kau sama sekali tidak pantas dipanggil Oppa. Cih!”

“Ya! Han Hye Jin, kau—sudah bosan hidup rupanya?”

“apa? Kau mau apa? Kau melemparkanku kejurang pun aku tetap tidak akan memanggilmu oppa!” balas  Hye Jin ketus, lalu beranjak pergi lebih dulu dari tempatnya, meninggalkan Kyuhyun yang tengah bersungut-sungut kesal.

“bocah itu dasar!!” geram Kyuhyun kesal. “Yaa!  Hye Jin! Kau mau kemana? Tunggu aku!!”

Han Hye Jin POV

Mengawali hari dengan berbagai lipatan dikening dan tumpukan rasa kesal memang bukan kebiasaanku. Tapi sepertinya telah menjadi keseharianku selama beberapa hari ini.

Aku mengakuinya. Aku memang sedang dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Mood-ku hancur sejak.. entahlah.. ini sudah berlangsung cukup lama.

Bukan tentang kebiasaan baruku, tapi tentang alasan mengapa aku memiliki kebiasaan ini. dan semua masalah yang terjadi dalam hidupku. Semua kekacauan dan segala hal-hal absurd lainnya, sebagian besar pun terjadi, bermula dari titik yang sama.

Siapa lagi yang bisa membuatku kehilangan semangatku seketika? membangkitkannya, lalu menjatuhkannya lagi secara tiba-tiba. Mencampur adukan hatiku hingga kini aku merasakan berbagai perasaan kalut?

Kuhela nafasku lagi sambil memandangi pantulan wajahku dari sebuah kaca lebar yang tertempel didinding kamar mandiku. Jemariku dengan halus merayap mengitari mata yang kini terihat begitu menyeramkan.

Seumur hidupku, tidak pernah aku memiliki bentuk mata seburuk ini. kantung yang begitu besar dan warna gelap yang mengelilinginya. Aku terlihat seperti seekor panda yang kurang tidur. Menggelikan.

Sisa air mataku semalam pun masih terlihat dengan sangat jelas. mengering dan terlihat kontras dengan warna kulitku. Aku teringat dengan kejadian semalam saat hampir seluruh waktuku, kuhabiskan untuk menangis didalam kamar, dengan kondisi make-up yang masih menempel diwajahku.

Jadi, perbedaan warna ini pasti karena make up yang belum ku hapus dan air mata itu membuat jalurnya sendiri pada wajahku. belum lagi mascara yang luntur, membuatku terlihat seperti… entahlah. Ini benar-benar perpaduan antara menjijikan dan menyedihkan. Menciptakan sebuah sinkronasi yang apik tentang gambaran bagaimana kisahku yang kacau malam itu.

Ponselku yang sejak tadi kuletakan dipinggir westafel, tak jauh dariku bergetar. Terdengar suara getaran yang beradu dengan kerasnya batu marmer hitam dengan sangat jelas.

Perlahan, aku melangkah menuju ponselku disana. Lampunya menyala berkedip-kedip seiring dengan alunan music sebagai nada deringnya. Dilayarnya, tertulis dengan sangat jelas nama orang yang telah membuatku terlihat menyedihkan seperti ini semalam penuh.

Walau malas rasanya, hampir seluruh dari hatiku ingin menjawabnya. Mendengar suaranya, aku merindukan suaranya. Padahal baru kemarin kami berbincang bersama. Walau bagiku, menghasilkan sesuatu yang  buruk.

“wae?” sapaku langsung, tidak ada sambutan yang lebih sempurna untuknya karena aku sedang malas melakukannya. Bukan hanya untuknya tapi untuk semua disekitarku. Hanya saja, saat ini nasib buruknyalah yang sedang mempertemukan kami hingga dirinya menjadi orang pertama yang suksess menerima sikap ini.

“Yaaa!! ada dimana kau? aku sudah menunggumu sejak tiga puluh menit yang lalu, kenapa kau tidak juga muncul? Kemana kau? Kau pikir aku supirmu? Aku juga lelah. Aku ingin pulang! aku ingin istirahat! kau dimana? Cepat keluar!!”

mwo? Aku?”

Aku memutar otakku sesaat, lalu mendapatkan sebuah kesimpulan dalam waktu berfikirku yang sangat singkat. Pria ini, tidak mendengarkan apa yang kukatakan semalam saat kami bertemu di Breadstick, café langganan mahasiswa kampus kami menghabiskan waktu.

“apa kau lupa dengan yang kukatakan semalam, Kyuhyun-ah?” tanyaku bernada datar. Sangat sulit membuatmu  bisa mengeluarkan suara sesantai ini saat kenyataan yang ada, dirimu nyaris meledak karena berbagai perasaan kacau yang meradang didalam hatimu, bergemuruh.

“Tck, jangan melempar pertanyaan lagi seperti itu,  Hye Jin. Aku tidak ada waktu untuk melakukannya.” Balasnya sebal. Bahkan aku bisa mendengar dengusan kesalnya barusan.

“Jawab saja pertanyaanku. Apa kau lupa dengan perkataanku semalam?”

“Aish~ yang mana?”

Benar. Kyuhyun sama sekali tidak mendengarkan apa yang kukatakan semalam, karena jika dia mendengarkan, dia pasti tidak akan memanyakan dimana sekarang aku berada. Kalau begitu percuma saja kami bertemu semalam. Hanya memberikanku rasa kesal.. lagi, karena bukannya pesanku yang diterimanya, malah aku yang kembali mendapati dirinya tengah bergumul lagi dengan…. Kau tahu dengan siapa pria ini tidak bisa melepaskan pandangan matanya. Semua orang tahu. aku pun tahu. hanya terkadang, aku saja yang sengaja membutakan mataku untuk menyangkal kenyataan yang terjadi.

Kuhela nafasku, sambil memejamkan mataku sesaat mencari ketenangan pada waktu sempit ini, lalu menghembuskannya perlahan-lahan, “aku, tidak kuliah hari ini. jadi kau benar. kau hanya membuang waktumu saja menungguku, Kyuhyun-ah. Lebih baik kau pulang saja.”

“mwoya?” serunya dengan volume yang tinggi. Aku sampai harus menjauhkan ponsel dari telingaku cepat-cepat. “kau tidak kuliah hari ini? Aish~ kenapa tidak bilang? Aku benar-benar membuang waktuku saja kalau begitu sejak tadi. ini bodoh namanya!”

Kini, aku yang mendengus sebal. Enak saja tidak bilang. Sejak semalam aku sudah mengatakan bahwa aku tidak akan masuk hari ini karena aku harus mendatangi acara peresmian gedung baru perusahaan milik Eomma yang kini sudah memiliki anak cabangnya sendiri pada bidang  bisnis yang lain dari bisnisnya selama ini.

Sebenarnya, untuk acara yang sudah sering terjadi ini, aku tidak diharuskan untuk ikut. tapi yang benar saja, kalau kali ini aku tidak ikut itu namanya bodoh! Eomma baru saja membuka bisnis barunya dibidang tata busana.

Sebuah Butik yang selama ini hanya menjadi pembicaraan kami dimeja makan saat makan malam, kini telah ter-realisasikan dengan Appa yang mengijinkan eomma membuka sebuah bisnis baru itu.

Dan hal keren yang dapat diambil adalah karena aku sangat yakin bahwa acara ini akan berlangsung dengan sangat sempurna. Berbagai designer terkenal dan juga model-model papan atas ikut berkecimpung dalam acara ini, begitu yang eomma bilang semalam, jadi… bukankah ini adalah kesempatan besar bagiku untuk mengembangkan bakatku kepada orang banyak dan juga menunjukannya kepada mereka semua? Kkk~

arra, jadi kau tidak sedang dikampus. Kalau begitu aku pulang.” ucap Kyuhyun tiba-tiba membuyarkan lamunanku dan memutus sambungan telepon kami dengan cepatnya. Bahkan tidak membiarkanku mengatakan hal yang lain seperti mengatakan bagaimana aku merindukannya.

Dan bagaimana aku marah dengannya ketika aku mendapatkannya tengah terperangkap bersama Eun Hye eonni lagi. aish~ aku kesal. Dan Kyuhyun tidak peka dengan hal sepele itu.

Satu lagi hal menyebalkan yang terjadi adalah… apa dia meneleponku hanya untuk menanyakan dimana aku berada dan bicara tentang bagaimana ia merasa bodoh karena telah membuang 30 menitnya yang  berharga untuk menungguku lalu marah saat tahu bahwa waktu berharganya itu terbuang sia-sia ketika tahu aku tidak ada untuknya?

Hallo…. Apa aku harus menjabarkan semua hal bodoh yang sudah kulakukan untuknya? Kalau kyuhyun hanya membuang waktunya selama 30 menit untukku lalu bagaimana denganku yang sudah membuang waktuku lebih dari dua tahun untuk sekedar meladeni sikapnya selama ini? tidak menghasilkan sesuatu yang signifikan untuku, sama seperti dirinya yang telah membuang waktunya itu.

Tapi apa dua tahun bisa dibandingkan begitu saja dengan tiga puluh menit? Kalau begitu apa aku tidak terlihat lebih bodoh karena mau membuang waktu berhargaku yang dengan pikiran telanjang pun aku akan tahu bahwa semua itu tidak akan pernah kembali lagi karena sekeras apapun kau berusaha, waktu yang telah terbuang tidak akan pernah kembali.

“YAA!  HYE JIN! KENAPA LAMA SEKALI?!” jeritan itu kembali mengganggu telingaku.

“Tsk, sebentar lagi, Oppa!!

“SEJAK TADIPUN KAU MENJAWAB SEBENTAR LAGI. SAMPAI KAPAN AKU HARUS MENUNGGU SEBENTAR LAGIMU ITU? PPALI! SEPULUH MENIT LAGI KAU TIDAK KELUAR, KAU BENAR-BENAR AKAN KUTINGGAL!”

“Cih!” decak-ku lagi. kenapa tidak ada satupun yang berjalan dengan sempurna untukku siang ini?

__ __

Satu hal yang harus kau waspadai adalah ketika seorang Kim Kibum marah. tidak akan ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. suasana disekitarmu pasti akan terasa mencekam karena semakin pria itu membungkam mulutnya, kau akan semakin masuk kedalam hatimu sendiri untuk menyelam kedalam rasa penyesalanmu, memikirkan semua perbuatanmu.

Begitulah yang sedang kurasakan sekarang. tentang kemarahan pria ini, jangan ditanya lagi karena memang benar-benar menyeramkan. Selain sikap bungkam yang sudah berlangsung hampir setengah perjalanan kami sekarang, Kibum oppa pun seperti hilang kendali dengan caranya mengemudikan kendaraan ini.

Dia seperti orang gila yang baru saja mendapatkan surat ijin mengemudinya. Dan sekarang, dengan santainya, ia mengemudikan sedan ini dengan kecepatan tinggi, menyalip berbagai mobil serta motor yang menghalangi lajur kami dengan mudahnya. Untuknya. Tidak untukku, karena disini, jantungku bahkan sudah nyaris lepas dari tempatnya.

“oppa~” rajuku lagi setelah sekian lama kukunci mulutku, diam dan membiarkan semua hal menyeramkan ini terjadi. “oppa, pelankan sedikit. Aku belum ingin mati. ish!”

Seperti tidak mendengar suaraku, Kibum oppa malah menginjak pedal gas lebih dalam, membuat deruan semakin meningkat. Aku menyerah. Memang sulit membujuknya kalau sedang kumat begini.

“berapa kali harus kukatakan. Hentikan semuanya. Aku tidak suka melihatmu berhubungan dengan bocah itu!”  bentaknya.

“bocah itu? aish~ lagi-lagi kau menyebutnya seperti itu, membuatnya seakan kau terlihat bertahun-tahun lebih tua darinya padahal kalian pun hanya berbeda satu tahun. haha—ayolah, oppa, apa kau benar-benar suka terlihat lebih tua seperti ini?” aku terkekeh. Sejujurnya hanya mengendurkan ketegangan yang terjadi diantara kami saat ini, tapi sepertinya yang kulakukan sekarang tidak mengubah apapun. karena kakak-ku ini hanya memandangiku tajam sambil mengunci mulutnya rapat.

Ku teguk liurku sendiri setelahnya dan mengalihkan pandanganku kearah lain. Terlalu takut untuk membalas tatapannya.

Jika kupikir selama ini dirinya  marah karena aku terlalu lama mengambil waktu untuk bersiap dari waktu yang telah ditentukannya tadi pagi, sekarang aku tahu bahwa kakak-ku ini marah karena hal yang sama.

Alasan yang sama untuknya memarahiku sejak sekian lama. pembahasan yang sama, dan kuyakin akan berakhir dengan penyelesaian yang sama.

Kukira pria ini akan marah karena aku lagi-lagi membuatnya melakukan hal yang paling dibencinya, yaitu menunggu. Tapi ternyata dia marah ketika mendapati kenyataan bahwa aku masih berhubungan dengan Kyuhyun.

Aku memang sudah dimintanya untuk meninggalkan kyuhyun sejak lama, tapi apa menurutnya itu akan mudah? ini tidak akan mudah.

Tidak untukku, walau kutahu akan mudah saja bagi kyuhyun yang selama ini seperti tidak menganggapku ada. Tapi aku masih belum bisa menyeimbangkan diriku tanpanya walaupun sejak dulu pun, pria separuh setan itu tidak pernah melakukan sesuatu yang signifikan untuku. Hal yang benar-benar menunjukan bahwa aku adalah kekasihnya. Bahwa kami adalah sepasang kekasih.  Sama sekali tidak.

Tapi aku tidak memerdulikan itu, karena aku memang tidak perduli. aku tidak perduli bagaimana dia memperlakukanku, aku tidak perduli bagaimana dengan diriku. Aku hanya mengikuti kata hatiku yang merasakan tentang bagaimana inginnya aku selalu berada disisinya. Aku bahagia ketika berada dekat dengannya.

“aku tidak bisa. Oppa~ aku… mencintai Kyuhyun.”

“Cih!” decaknya sambil tersenyum sinis, “cinta? Tahu apa kau tentang cinta? jangan asal bicara. Salah bicara, orang lain akan tahu betapa bodohnya kau.”

“oppa!!”

“aku tidak perduli apapun alasannya,  Hye Jin. Kalian harus berpisah.”

“kau hanya tidak mengenal Kyuhyun dengan baik oppa. karena itu aku sering mengajakmu bertemu dengannya, karena kau pasti akan menyukainya setelah kau mengenalnya. Kyuhyun pria yang baik”

“selama ini aku tidak mendapatkan bukti kalau Kyuhyun memang pria yang baik karena yang kutahu, pria bernama Cho Kyuhyun itu selalu membuat adiku menangis setiap kalian mengabiskan waktu bersama. Apa itu tidak terdengar bodoh?  Hye Jin, mengertilah. Aku bukannya tidak menghargai perasaanmu, justru karena aku menghargai perasaanmu dan menyayangimu, aku tidak ingin kau terus bersamanya. Diluar sana, masih banyak pria baik-baik yang bisa kau miliki, yang menyayangimu, yang tidak akan menyakitimu dan membuatmu selalu merasa seperti ini.”

“merasa seperti apa?”

“terbuang! Tidak diinginkan!” balas Kibum oppa cepat. “apa harus kujabarkan satu persatu saat ini, hah?”

Aku kembali terdiam. Aku tidak akan menyalahkan perkataannya juga, karena jika dipikir secara logika, semuanya memang benar. tapi apakah itu penting? Bukankah cinta tidak mengenal logika?

“ Hye Jin, kau itu cantik. Kau sangat cantik. Kau juga pintar dan memiliki sifat supel. Tidak akan sulit bagimu untuk beradaptasi dilingkungan baru, juga tidak akan sulit bagimu untuk dekat dengan orang baru. Carilah kehidupan barumu. Tinggalkan bocah itu. kau hanya memiliki hidup satu kali. Jangan sia-siakan hanya untuk menikmati hal bodoh ini!”

Terangnya. Mungkin otakku yang sudah buntu karena aku tidak mendapatkan sisi positive dariapa yang Kibum Oppa katakan padaku. Saat ini dia sedang memujiku, tapi ini malah terdengar seperti mengejekku.

Apa aku terlihat sebodoh itu karena mempertahankan hubungan ini? kurasa tidak. aku yakin banyak pasangan diluar sana yang juga melakukan hal seperti yang sedang kulakukan sekarang ini. ayolah~ bukankah ini yang sebut cinta?

Ini baru namanya cinta! ini baru namanya berjuang! Mempertahankan sesuatu yang dianggap membuatmu bahagia. Aku jadi mengerti apa yang Juliet rasakan saat ia berjuang mati-matian mempertahankan cintanya bagi romeo.

Kisahku memang tidak setragis itu, tapi kurasa aku bisa menarik benang merah dari kisah kami sekarang. perjuangan. Bukankah begitu?

“oppa~!”

“berhenti bersikap seperti itu! itu menjijikan!!” bentaknya

“bersikap seperti apa? Aku—“

“terserah kau sajalah. Aku benar-benar sudah lelah mengatakan ini kepadamu. Sudah tebal rasanya bibir ini mengatakan hal yang sama untukmu. Aku tidak mengerti apa yang kau lihat dari bocah itu. aku tahu kau mencintainya. itu terbaca jelas dikeningmu, tapi apa dia juga mencintaimu? Aku tahu bagaimana cinta itu,  Hye Jin. Aku juga pernah merasakannya. Tapi apa jika kau sedang jatuh cinta seluruh fungsi otaku lantas berhenti bekerja?” tuturnya panjang. Menggeram emosi dan mematikan mesin kendaraan ini, lalu mencabut kuncinya yang menggantung.

Tanpa perlu diberikan komando, aku segera mengikutinya turun, lalu perlahan mensejajarkan tubuh kami dan berjalan beriringan.

“kurasa cinta juga harus pakai ini” ujarnya kemudian. Telunjuknya menusuk pelipisnya sendiri berkali-kali.

Cho Kyuhyun POV

Kembali kusesap hot latte dengan tambahan parutan cokelat diatasnya, yang baru saja dua menit berada diatas mejaku. Kulirik jam dinding yang menempel sempurna diatas pintu masuk café ini.

Ini sudah lima belas menit. Seharusnya, gadis itu sudah sampai sejak sepuluh menit yang lalu jika memang benar dirinya sedang berada didaerah yang sama denganku, karena jarak dari gedung tempat acaranya berlangsung dengan café breadstick ini tidaklah jauh. Hanya lima menit dengan berjalan kaki.

Tidak seharusnya aku menunggu hingga berjamur begini jika memang benar ia sedang ada didekat sini. Ini terlalu lama. harusnya dia bisa mengatakan tidak bisa menemuiku kalau memang dirasa ia sedang begitu sibuk disana. Bukannya malah meng-iya kan tawaranku untuk bertemu dan membuatku terlihat seperti pria depresi yang sedang menanti kelahiran anak pertamanya begini. Aish~

Sambil menunggu  Hye Jin, kualihkan seluruh fokusku kembali pada laptopku. Kembali mataku dengan teliti membaca satu persatu tulisan dalam akun twitter pribadi Eun Hye. entah apa yang terjadi dengan gadis itu lagi, seluruh tulisannya sekarang menggambarkan tentang bagaimana kacaunya ia saat ini.

Menceritakan bagaimana Choi Minwo, kekasih barunya yang selalu ia banggakan dihadapanku itu memperlakukannya. Seperti berbanding terbalik dengan apa yang selalu ia katakan kepadaku,  tapi saat ini dia terlihat seperti menderita.

Kekasih baru yang dianggapnya sempurna itu lebih sering mengacuhkannya karena sibuk. Mereka jarang bertemu atau bahkan bertegur sapa walau menggunakan sambungan telepon.

Hanya sesekali diwaktu senggangnya, itupun jika Minwo tidak lelah setelah ia menguras seluruh energinya untuk bekerja.

Aku tidak mengerti apa yang ia lihat dari pria semacam itu? bahkan orang buta sekalipun dapat melihat dengan jelas bahwa aku masih jauh lebih baik dari pria brengsek yang telah merebut gadisku itu. aku masih jauh lebih baik dan akan jauh lebih baik jika ia memberikanku kesempatan untuk bersamanya lebih lama.

Ini memang terlihat konyol bagaimana aku yang tidak pernah bisa melepaskan kenyataan yang ada, bahwa aku masih saja menunggu atau bahkan mencari harapan itu lagi disaat semuanya telah jelas. mereka berdua bahkan sudah bertunangan sekarang.

Itulah berita yang baru kudapatkan. Dan karena itulah aku meminta  Hye Jin untuk datang menemuiku sekarang. malam ini.

Kuangkat kembali cangkir latte-ku dan menyesapnya lagi. tanpa sengaja, bola mataku bertemu dengan gadis yang sejak tadi kutunggu. Ia terus menghampiri ku dengan setengah berlari. Sepertinya ia benar-benar sedang berada ditengah sebuah pesta besar.

Itu bisa dilihat dari pakaian yang ia kenakan saat ini. sebuah gaun malam panjang berwarna silver yang benar-benar mengikuti alur tubuhnya. Terlihat sangat kontras dengan pakaian hampir seluruh tamu yang ada sekarang. membuatnya sontak menjadi pusat perhatian tentu saja.

“wae? Waeyo?” ucapnya langsung ketika baru saja sampai, dan mengambil tempatnya didepanku. Bicara dengan nafas yang masih begitu memburu, membuatku berfikir apa dia benar-benar datang dengan berjalan kaki seperti yang kukatakan kepadanya ditelepon tadi? Dengan pakaian yang seperti itu? apa itu tidak menyulitkannya? Kemana mobilnya? Bukankah biasanya ia selalu berpergian dengan mobil pribadinya?

“apa yang terjadi? Gwaenchana?” Hye Jin sibuk meneliti tubuhku per-inchi. “Kau—mana yang terluka?” tukasnya lagi. aku mengerutkan keningku tidak mengerti.

“siapa yang terluka? Aku baik-baik saja. Tidak sedang ada perang disini, kau tahu? aneh” sahutku kemudian. Yaah.. aku tidak sepenuhnya menyangkal pertanyaannya walau dengan orientasi yang berbeda.

Aku memang sedang terluka. Bukan secara fisik tapi mungkin secara batin. Dan itu tidak bisa disebut bahwa aku sedang baik-baik saja. tapi, kalau disebut aku sedang terluka parah pun tidak. hanya kumpulan rasa terkejutku ketika mendapatkan kabar pahit itu.

“…. Lalu?” tanya  Hye Jin lagi. kepanikan masih mendominasi wajahnya saat ini.

Kuserahkan sebuah kertas tebal, yang sejak tadi kuletakan disamping laptopku kepadanya. Walau masih terlihat begitu tidak mengerti, ia tetap menerima pemberianku itu dan perlahan, membuka plastic yang menutupi karton tebal berwarna emas itu.

mwo? Ini serius? Tunangan?” serunya terkejut.  Aku mengangguk lemah. Aku juga tidak tahu harus menjelaskan apalagi. Aku harap, dengan membaca undangan itu, otak cerdasnya akan dengan cepat bekerja dan mengerti apa yang sedang kurasakan sekarang.

ngg… kalau begitu kau harus bersiap-siap. Kau mau datang kan?”

“mwo?” apa katanya? Datang? Astaga, yang benar saja,  Hye Jin. Apa itu tidak terlihat bodoh? Bahkan seluruh orang pun tahu kalau aku dan Eun Hye masih memiliki ‘sesuatu’ yang belum kami selesaikan. Lalu apa maksudnya dengan datang?

“Ya,  Hye Jin. Aku memintamu kemari, bukan untuk mengatakan kepadamu kalau aku ingin datang kepesta pertunangan itu.” jelasku.

“lalu?”

“aku hanya ingin memberitahukan kepadamu. Mereka bertunangan.”

“….la…lu?”

“mereka bertunangan  Hye Jin! Bertunangan!!”

“aku tahu, lalu dimana letak permasalahannya?”

Astaga, kemana perginya otak cerdas yang selalu dibanggakannya itu? “mereka ber-tunangan!” pekiku kesal. Persetan dengan orang yang merasa terganggu dengan suaraku yang kian meninggi sekarang. kenapa bicara dengan gadis ini selalu membuatku harus menarik uratku dalam-dalam?

Hye Jin mendesah dan menyandarkan bahunya pada punggung kursinya. Matanya seperti menelitiku satu persatu dalam bungkamnya. Tangannya lalu melayang menarik sebuah sumpit yang sejak tadi menjadi penopang rambut yang dijadikannya seperti sanggul, hingga kini helaian panjang itu sudah terjatuh seutuhnya, menutupi bahunya yang semula terbuka. Mempertontonkan bahu mulus dan leher jenjangnya.

“aku masih tidak mengerti dimana letak permasalahannya, Kyuhyun-ah. Lalu kenapa kalau mereka bertunangan? Apa menurutmu itu buruk? Menurutku, itu adalah sebuah kemajuan. Akhirnya, mereka mengambil sesuatu dari hal yang selama ini mereka jalani. Satu langkah lebih maju.” Tuturnya dengan nada memelan.

Menyambar latte-ku dan meminumnya satu kali tegukan, lalu kembali membuka suaranya, “kau harus datang. Kenapa aku bilang kau harus datang? Karena itu menunjukan kepada mereka bahwa kau adalah seseorang yang kuat. Maksudku—semua orang tahu bagaimana Minwo oppa dan Eun Hye eonni bertemu. bagaimana mereka bersama, kurasa itu bukan rahasia umum lagi. dan tanpa perlu dijelaskan pun semua orang akan tahu bahwa kau menjadi satu-satunya orang yang mungkin dapat disebut sebagai korban. Apa hal yang paling disukai oleh seorang musuh? Tangisan kekalahan. Dan apa yang hal yang membuatnya lemah? Melihatmu dapat berdiri dengan tenang, melanjutkan harimu dengan senyuman hangat seperti hal ini tidak pernah merusak sesuatu didalam sini” ujarnya sambil menyentuh dadanya.

Aku cukup tertegun mendengar penjelasannya. Semua yang dikatakannya memang benar, walau hati kecilku masih menyangkal bahwa aku masih tidak memilki alasan yang konkret untuk mendatangi pesta besar itu.

“aku tidak bilang kalau minwo oppa adalah musuhmu. Aku hanya menggambarkannya saja. hanya sebagai perumpamaan. Seperti itulah pokoknya. Kau kan lebih cerdas dariku. Kau bisa mencernanya sendiri. pikirkan kata-kataku. Kau bukan bocah lagi yang dapat selalu menghindar dari masalahmu. Masalah bukan untuk dihindari, tapi dihadapi. Bukankah semakin kau menghindar, masalah itu malah akan semakin menghantuimu?”

Kuanggukan kepalaku pelan, menjawabnya. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi untuk membahas masalah ini. sepertinya sekarang pikiranku lebih kacau ketimbang tadi sebelum  Hye Jin datang dan mulai berbicara banyak seperti sekarang.

Kuhela nafas dengan berat, mengendurkan bahuku yang semula menegang.“aku hanya tidak terima karena kupikir Minwo bukanlah pria yang tepat. Aku juga tidak akan mengatakan bahwa aku akan menjadi pria yang tepat jika saja dia memilihku. Tapi, kau tahu bagaimana minwo itu, kan? semua orang bahkan tahu bagaimana sifat buruknya. Semua orang tahu kecuali Eun Hye sendiri. apa itu tidak bodoh?”

“aku rasa tidak. itu bukan bodoh. Kukira itu cinta. dan kurasa… aku cukup mengerti apa yang Eun Hye eonni rasakan. Kau mungkin belum mengerti, atau mungkin tidak mengerti. Tidak akan mengerti? Entahlah..” gumamnya sendiri.

Aku tidak mengerti dengan apa yang  Hye Jin katakan sekarang. cinta? apa itu bisa dibilang cinta? apa cinta terlihat sebodoh itu? ayolah~ cinta juga harus pakai akal sehat kan?

ahhh…. Sudahlah.. tidak perlu dipikirkan! Kau datang saja! eotte?

ngg… tapi aku—“

“aku lapar! Kau sudah makan belum?”

“ani.”

“aku juga!” serunya lalu menarik tangannya tinggi-tinggi diudara sambil  menjentikan jemarinya memanggil pelayan.

“bukankah kau baru dari pesta?”

“mm.”

“memangnya disana kau tidak makan?”

“aku bahkan pergi sebelum acara inti berlangsung. Bagaimana aku bisa menikmati makanan-makanan lezat itu? Cih! semua ini salahmu, kau tahu?” dengusnya sambil melemparkan sorotan tajamnya kepadaku.

__ __

Han Hye Jin, gadis ini benar-benar melakukan apa yang dikatakannya dua minggu yang lalu. ia benar-benar membuatku mendatangi acara pertunangan besar itu. dia bahkan menjadi satu-satunya orang yang sibuk dengan penampilanku disaat aku tidak terlalu memikirkan hal tidak penting itu.

Tsk, kau tidak harus seperti ini,  Hye Jin” ucapku Jengah saat ia dengan seriusnya merapihkan jasku berkali-kali. Seperti memastikan berjuta kali bahwa apa yang kukenakan sekarang terlihat sempurna.

“bisa kau tutup mulutmu itu, Tuan muda? Aku sedang sibuk” serunya lagi, kini sedang memasangkan sebuah dasi, dilingkar leherku. selalu itu yang dikatakannya ketika aku mulai membuka suaraku. Seakan apapun yang keluar dari mulutku, hanya akan merusak kerja otaknya saja.

cha! Sudah rapih!”  ia berseru girang. Entah dimana letak menyenangkannya, ia terlihat sangat.. bersemangat hari ini. “aigoo~ keren!” ucapnya lagi sambil memandangiku seakan aku adalah sebuah patung mahakarya pemahat terbaik sepanjang abad.

Sekarang, giliran aku yang tertawa lebar, “aku tahu itu” sahutku sambil memamerkan senyuman khasku kepadanya.

“cih!”

“aku memang keren. dan tampan.”

“kau?” decaknya dan bertolak pinggang. Memandangiku dengan tatapan tidak habis pikirnya. “aku tidak sedang bicara tentang dirimu Cho Kyuhyun!”

Kunaikan kedua alisku membalas tatapannya sekilas. Membuatnya kembali berdecak Jengah.

“ya ya ya, aku tahu kau cukup keren.” aku-nya menyerah. “tapi aku tidak sedang membicarakan dirimu tuan Narsis. Maksudku setelan ini. ini keren kan? Ini rancangan pertamaku! Kubuat dalam waktu singkat.” Tukasnya penuh rasa bangga.

“aku memang berbakat!”  Hye Jin memuji dirinya sendiri disaat aku masih tidak mengerti dengan cara kerja otaknya. Ayolah, siapapun akan dengan mudahnya sadar bahwa dia sedang memujiku. Tidak perlu diputar balikan, seakan ia memuji hasil karyanya sendiri seperti ini!

Dengan mata telanjang pun aku dapat melihat bagaimana ia memujaku. “Cih!” decaku ringan membalasnya.

Kualihkan pandanganku memandangi café ramai ini. beberapa mahasiswa yang baru saja selesai kuliah, terlihat bertebaran memenuhi tempat ini. mereka lebih memilih untuk mengerjakan tugas yang tidak sedikit itu ditempat ini bersama dengan kawanan mereka.

“kau benar tidak ingin ikut,  Hye Jin?” tanyaku kemudian.

Hye Jin menggeleng lagi. jawaban yang sama untuk pertanyaan yang sama. “aku tidak bisa Kyuhyun-ah. Aku harus mengumpulkan tugas-tugas ini besok” ungkapnya melemah. Dengan sorotan matanya, ia menunjuk deretan buku-buku yang sengaja ia sebar diatas meja kami. Tempat yang seharusnya diisi oleh berbagai makanan dan minuman.

Kubuang nafas panjangku kemudian. Ini lucu. Memang  bukan hanya diriku saja yang akan datang seorang diri. Maksudku, tanpa pasangan. Karena Eunhyuk dan Heechul Hyung pun melakukan hal yang sama.

Mereka juga datang seorang diri. Heechul Hyung terpaksa datang sendiri memang karena dia dan kekasihnya, Ga Eun berada ditempat terpisah. Mereka melakukan hubungan jarak jauh selama ini, jadi hal semacam ini bukanlah hal yang asing lagi untuknya.

Sedangkan Eunhyuk… monyet yadong itu…. tidak perlu ditanya lagi alasan mengapa ia hanya datang seorang diri. Tentu saja karena selama ini dirinya memang selalu sendiri. gadis mana yang mau dengan pria jelek sepertinya? Kkk~

“aku harus mengumpulkan semua tugas ini agar aku bisa melakukan ujian susulan. Kau tahu? karena aku melewatkan beberapa kelas waktu itu… issh~ menyebalkan sekali!” rancau  Hye Jin sebal. Ia lantas memandangi semua buku-bukunya dengan pandangan nista.

arrasseo, aku mengerti” kuacak rambutnya pelan dan tersenyum. “seharusnya kau tidak mengerjakannya disini. perpustakaan pasti menyimpan banyak materi yang kau butuhkan. Dan Ini belum terlalu malam untuk datang kesana.”

Ujarku menyarankan. Aku juga tidak tega melihatnya berkutat dengan seluruh tugas-tugas tambahannya sendirian disaat seharunya aku membantu meringankan seluruh bebannya.

“aku tahu, nanti aku kesana”

“jangan nanti-nanti. Tugasmu itu banyak sekali. Lebih cepat lebih baik.”

“aku tahu.. aku tahu.” kilahnya mulai jengah. Aku terkekeh pelan melihatnya memutar bola matanya setelah aku mengatupkan bibirku. Apa ucapanku tadi terdengar seperti appa-nya ketika sedang mulai menceramahinya?

“ Hye Jin…”

“mm?”

“kau… benar-benar tidak bisa ikut?”

Tanyaku lagi. kali ini bukan karena aku malas datang sendiri tapi murni hanya ingin menggodanya. Aku tahu separuh hatinya ingin ikut denganku. mengingat Pria brengsek Choi Minwo itu adalah seorang fotografer yang cukup memiliki nama besar, aku rasa aku tahu alasan terbesarnya mengapa dia ingin ikut datang.

“kau tahu… aku rasa akan ada banyak fotografer lainnya dan direktur-direktur majal—“

“yaaa!” bentaknya menyelaku. Matanya mendelik kesal kepadaku, membuatku semakin gencar saja ingin menggodanya.

“kau juga tahu kan kalau Eun Hye itu baru saja memulai debut modeling nya?”

“Cho Kyuhyun!!”

“dan menurutku akan ada banyak perancang busana atau bahkan model-model papan atas lainnya yang datang.”

“lebih baik kau diam.”

“kemarin kau tidak sempat bertemu dengan mereka semua karena kau datang menemuiku kan?”

“Tsk! Yaa!”

“kau tidak menyes—“

“itu! Heechul Oppa sudah datang! Lebih baik kau pergi sekarang! mengganggu saja!” umpatnya kemudian. Dengan dagunya, ia menunjuk sebuah sedan hitam yang telah bertengger dibahu jalan, seberang café ini.

“sepuluh menit kurasa cukup untuk berdandan. Benar tidak ingin ikut?”

“ppali!!”

“tidak akan menyesal?”

“Tck, sudah sana pergi!” usirnya kemudian. Ia bahkan menyeretku keluar dari posisiku dan menariku hingga aku benar-benar berdiri sempurna diantara meja kami.

Dengan cekatan ia kembali merapihkan pakaianku dan mendorongku menjauh, “hus hus!!”

Aish~ kurang ajar. Malah mengusirku begini. “jangan pulang terlalu malam!” ujarku dengan suara lebih keras karena jarak kami yang telah cukup jauh.

Hye Jin mengangguk cepat beberapa kali dan memamerkan dua ibu jarinya padaku, “jangan lupa kabari aku bagaimana pestanya!” serunya lalu tersenyum.

Author POV

“jangan lupa kabari aku bagaimana pestanya!” pesan  Hye Jin pada Kyuhyun sebelum pria itu benar-benar lenyap dari Breadstick. Desisan sinis lengkap dengan senyuman mencibir tersirat jelas diwajah Eun Soo.

“yang benar saja. omong kosong macam apalagi itu?” gumamnya malas sambil kembali menyibak lembaran, halaman berikutnya pada majalah fashion  yang sedang digelutinya sejak tadi. mengisi waktu luangnya disaat  Hye Jin tengah sibuk dengan berbagai aktifitasnya bersama Kyuhyun.

Dua menit setelahnya,  Hye Jin berjalan gontai menuju meja yang tadi sempat ditinggalnya saat mengantar Kyuhyun sebelum namja itu pergi dari tempat itu.

Rona wajah yang berubah drastis, dari riang-menuju sendu kembali mencuat. Senyuman yang sebelumnya selalu tertempel pada wajah  Hye Jin kini berganti dengan air mata yang perlahan tapi pasti keluar dari dua bola matanya.

“hhh… Han Hye Jin. Han Hye Jin” erang Eun Soo dan menutup majalah tebalnya. Dua tangannya terlipat rapih diatsanya, dan matanya memandangi  Hye Jin yang kini tengah menangis tersedu.

Eun Soo kembali memutar matanya jengah saat  Hye Jin telah sepenuhnya tenggelam dalam kesedihan buatannya sendiri. merasa acuh menanggapi hal yang telah terjadi berulang, namun tetap saja hal membuatnya merasa iba.

~~

“aku tidak mengerti apa yang sebenarnya ada dipikiranmu,  Hye Jin. Benar-benar tidak mengerti” ucap Eun Soo yang sengaja memberikan penekanan penuh pada kalimat akhirnya. Akal sehatnya pun telah tak berfungsi untuk mencerna semua sikap sahabatnya itu.

“lalu apa point nya? kau memaksanya tetap datang ke acara itu sedangkan disini kau menangis tersedu, merasa tidak rela karena pria itu meninggalkanmu?”

Eun Soo memandangi  Hye Jin tak habis pikir. Kesabarannya bahkan telah lenyap sejak awal gadis bermata cokelat itu mengeluarkan air matanya satu jam yang lalu. seluruh akal sehatnya telah lenyap tak bersisa walau hanya untuk sekedar menyebut Kyuhyun yang notabene lebih tua dua tahun darinya ‘oppa’.

Terlalu muak. Itulah yang dirasakannya sekarang. “seharusnya kau katakan saja kalau kau tidak ingin Kyuhyun mendatangi pesta itu!”

“ini bukan salahnya! Aku yang memaksanya datang!” sela  Hye Jin cepat

“oh, tentu saja. Tentu saja kau yang menyuruhnya. Tentu tentu” geram Eun Soo lagi masih mencoba memahami cara berfikir Han Hye Jin. Gadis yang dianggapnya terlalu ajaib. Yang rela memberikan hati seutuhnya hanya untuk dilukai orang lain.

“lalu untuk apa kau menangis sekarang? nikmati saja kebodohan mu itu!” nada bicara eun soo semakin menunjukan kekesalannya. “mungkin saja sekarang dia sedang menghabiskan waktunya bersama wanita jalang itu!”

“Eun Hye. namanya Park Eun Hye. jangan begitu, itu tidak sopan.”

Eun Soo menyunggingkan senyuman sinis diujung  bibirnya pada  Hye Jin, “terserah aku akan memanggilnya dengan sebutan apa. Itu bukan urusanmu!”

“Eun Soo..”

“aku membencimu kau tahu itu Han Hye Jin? Kau benar-benar menyebalkan dan bodoh. Kau seperti—Tsk, kemana perginya sel-sel otak unggulanmu itu? kemana?? Aku lelah dengan sikapmu ini! kenapa kau begitu bodoh, hah?” erang Eun Soo geram. Mengacak rambutnya sendiri frustasi, dan melakukan banyak hal konyol lainnya mengalihkan emosi dirinya bagi  Hye Jin.

Sedangkan  Hye Jin sendiri tengah sibuk mendalami kesedihannya dengan menangis. membuat banyak pasang mata pada café yang semakin malam semakin menjadi sepi ini mengalihkan focus mereka bagi gadis tersebut.

“dan aku masih tidak mengerti kenapa namja itu juga bisa begitu bodoh? Kenapa bisa dengan mudahnya diapercaya dengan alasan konyolmu itu? kapan gadis ini sakit? kapan gadis ini meninggalkan kelas-kelasnya? Tugas tambahan.. Cih! benar-benar konyol.” Gumamnya sendiri.

Dengan sangat cepat dapat mengambil kesimpulan bahwa Kyuhyun sama sekali tidak memahami degan baik apa-apa saja yang telah terjadi pada  Hye Jin. Menertawai alasan konyol  Hye Jin untuk menolak ajakan namja tersebut ikut mendatangi pesta pertunangan Eun Hye dan Minwo hanya untuk menghindari pemandangan yang mungkin dapat membuatnya semakin terluka.

“selama ini kau tidak pernah satu kalipun melewatkan kelasmu dan Kyuhyun sama sekali tidak menyadari itu. sedikitpun!”

“itu buka—“

“jangan bicara lagi!” bantah Eun Soo melebarkan tangannya didepan wajah  Hye Jin percis. “aku sedang malas bicara dengan gadis bodoh!”

Cibirnya lagi. membuang wajahnya memandangi jalanan yang semakin malam kian menyepi dan hanya menyisakan beberapa mobil dari balik tembok kaca disampingnya dengan bibir terkatup rapat dan tangan yang terlipat rapih didepan dadanya.

“aku tahu kau mencintainya. aku paham dengan hal itu tapi kupikir cinta juga harus menggunakan otak. Dan kau seperti—kehilangan segalanya. Kau—hhh… aku tidak tahu harus mengatakan apalagi,  Hye Jin. Kau tahu kau berada pada garis terbawah dari kata bodoh?” ucap Eun Soo melemah.

Emosinya yang tadi kian meluap, perhalan kini memudar, digantikan rasa penat. Sadar akan rasa percuma yang akan didapatnya untuk setiap luapan emosi yang muncul gadis dengan rambut super panjangnya itu menggelengkan kepala lemah kepada  Hye Jin.

“apa kau tidak lelah selalu seperti ini,  Hye Jin?”

“aku…”

“bahkan semua orang disekitarmu saja sudah lelah melihatmu begini. Kalau Kibum Oppa ada disini, kau pasti sudah dicekiknya lagi karena kembali menangis untuk alasan yang sama.”

Eun Soo mengangkat cangkirnya dan menyesap black coffee gelas keduanya. Menikmati aroma paduan kopi kental dengan air yang menimbulkan wangi sedap favoritnya dengan mata terpejam sesaat.

“beruntung orang tuamu juga sibuk. Mereka tidak memantau dengan detail hal apa saja yang terjadi denganmu. Aku sangat yakin kedua orang tuamu pun akan memasungmu hingga kau tidak bisa bertemu dengan Kyuhyun oppa lagi jika mereka selalu melihat pemandangan ini.” Eun Soo menunjuk wajah  Hye Jin dengan telunjuknya dan memutar jemarinya diudara yang diikuti oleh bola mata  Hye Jin pada jari lentik tersebut.

“kau kacau.  Hye Jin. Benar-benar kacau. Aku sudah bosan memberikan saran untukmu karena saran apapun yang keluar dari mulutku hanya akan menjadi tamu sesaat ditelingamu, dan langsung kau lupakan begitu saja. jadi sekarang… terserah kau saja akan melakukan apa. Aku sudah tidak tahu lagi” kilah Eun Soo dan mengangtak dua tangannya seakan ia adalah tawanan kepolisian yang siap ditangkap.

“jangan katakan ini pada Kibum oppa” pinta  Hye Jin memelas. Mengerti akan kejadian selanjutnya jika sahabat satu-satunya ini membeberkan semua kejadian malam ini pada pria tampan yang sudah kembali ke Amerika lagi untuk meneruskan study-nya, saat masa liburnya telah usai.

Eun Soo menggeleng pelan sambil menghembuskan deruan nafas beratnya. “terserah kau sajalah” balasnya singkat, tidak memerdulikan  Hye Jin.

-TBC-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s